Minggu, 08 April 2018

VARIASI MEDIA DAN ALAT BANTU DALAM MENGAJAR


A. MEDIA PEMBELAJARAN

Media dalam prespektif pendidikan merupakan instrumen yang sangat strategis dalam ikut menentukan keberhasilan proses belajar mengajar. Sebab keberadaannya secara langsung dapat memberikan dinamika tersendiri terhadap peserta didik.
Kata media pembelajaran berasal dari bahasa latin ”Medius” yang secara harfiah berarti ”tengah”, perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Gerlach dan Ely mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.
Dalam pengertian ini guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual dan verbal. Association for Education and Communication Technology (AECT) mendefinisikan media yaitu segala bentuk yang dipergunakan untuk suatu proses penyaluran informasi. Sedangkan Education Association (EA) mendefinisikan sebagai benda yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrument yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar, dapat mempengaruhi efektifitas program instruksional.
Menurut Oemar Hamalik, media pembelajaran adalah Alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Menurut Suprapto dkk, menyatakan bahwa media pembelajaran adalah suatu alat pembantu secara efektif yang dapat digunakan oleh guru untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Dalam penelitian kali ini peneliti lebih cenderung menggunakan definisi media pembelajaran dari Oemar Hamalik dengan alasan bahwa cakupannya lebih luas, tidak hanya dibatasi sebagai alat tetapi juga teknik dan metode sehingga dapat mencakup definisi dari para ahli pendidikan lainnya.

B. MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS INTERNET (E-LEARNING)

Dalam paradigma pembelajaran tradisional, proses belajar mengajar biasanya berlangsung di dalam kelas dengan kehadiran guru di dalam kelas dan pengaturan jadwal yang kaku di mana proses belajar mengajar hanya bisa berlaku pada waktu dan tempat yang telah ditetapkan. Peran guru sangat dominan dan bertanggung jawab atas efektivitas proses belajar mengajar dan guru juga menjadi sumber belajar yang dominan.
Dalam paradigma sekarang, dengan pendekatan SCL dominasi guru berkurang dan sebagian besar hanya berperan sebagai fasilitator dan bukan sebagai satu-satunya sumber belajar. Sebagai fasilitator guru semestinya dapat memfasilitasi siswa atau siswa agar dapat belajar setiap saat di mana saja dan kapan saja siswa merasa memerlukan. Proses belajar mengajar akan berjalan efektif dan efisien bila didukung dengan tersedianya media yang menunjang. Penyediaan media serta metodologi pendidikan yang dinamis, kondusif serta dialogis sangat diperlukan bagi pengembangan potensi peserta didik, secara optimal.
Hal ini disebabkan karena potensi peserta didik akan lebih terangsang bila dibantu dengan sejumlah media atau sarana dan prasarana yang mendukung proses interaksi yang sedang dilaksanakan. Media dalam perspektif pendidikan merupakan instrumen yang sangat strategis dalam ikut menentukan keberhasilan proses belajar mengajar. Sebab keberadaannya secara langsung dapat memberikan dinamika tersendiri terhadap peserta didik.
Dengan keterbatasan yang dimiliki, manusia seringkali kurang mampu menangkap dan menanggapi hal-hal yang bersifat abstrak atau yang belum pernah terekam dalam ingatannya. Untuk menjembatani proses internalisasi belajar mengajar yang demikian, diperlukan media pendidikan yang memperjelas dan mempermudah peserta didik dalam menangkap pesan-pesan pendidikan yang disampaikan. Oleh karena itu, semakin banyak peserta didik disuguhkan dengan berbagai media dan sarana prasarana yang mendukung, maka semakin besar kemungkinan nilai-nilai pendidikan mampu diserap dan dicernanya.
Kemajuan ICT, proses ini dimungkinkan dengan menyediakan sarana pembelajaran online melalui internet dan media elektronik. Konsep pembelajaran berbasis ICT seperti ini lebih dikenal dengan e-learning. E-Learning atau electronic learning kini semakin merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah pendidikan, baik di negara-negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Banyak orang menggunakan istilah yang berbeda beda dengan e-learning, namun pada prinsipnya e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan jasa elektronika sebagai alat bantunya.
E-Learning memang merupakan suatu teknologi pembelajaran yang relatif baru di Indonesia. Untuk menyederhanakan istilah, maka electronic learning disingkat menjadi e-learning. Kata ini terdiri dari dua bagian, yaitu ‘e’ yang merupakan singkatan dari ‘electronica’ dan ‘learning’ yang berarti ‘pembelajaran’. Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan  jasa bantuan perangkat elektronika.  Jadi dalam pelaksanaannya e-learning menggunakan jasa audio, video atau perangkat komputer atau kombinasi dari ketiganya.
Pengertian formal istiah e-learning diberikan oleh beberapa pakar diantaranya yang banyak diadopsi adalah pendapat Harley, yang menyatakan bahwa e-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan Komputer lain. Sedangkan menurut Learn Frame bahwa e-learning, disebut juga TbLearning (Technology-based Learning) adalah sistem pendidikan yang menggunakan semua aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar termasuk jaringan Komputer (Internet, Intranet, Satelit), media elektronik (audio, tv, CD-ROM).
Dalam konsep e-learning, tidak saja materi pelajaran disediakan secara online, tetapi juga ditandai dengan adanya suatu sistem (berupa software) yang mengatur dan memonitor interaksi antara guru dan siswa (dosen dengan siswa), baik bersifat langsung (synchronoius) atau tertunda (asynchronoius).

C. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN E-LEARNING

Ada beberapa keunggulan e-learning dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional di antaranya adalah:
·         Pembelajaran jarak jauh, e-learning memungkinkan pembelajar untuk menimba ilmu tanpa harus secara fisik menghadiri kelas.
·         E-Learning dapat mempersingkat jadwal target waktu pembelajaran.
·         E-Learning menghemat biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah program studi atau program pendidikan.
·         E-Learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan atau materi, peserta didik dengan dosen, guru, instruktur maupun sesame peserta didik.
·         Fleksibilitas dari sisi waktu dan tempat. Suasana tidak menegangkan. Dengan e-learning suasana belajar tidak menegangkan seperti tatap muka langsung. Siswa lebih berani melakukan latihan online karena tidak takut malu atau dibentak kalau melakukan kesalahan.
·         Mudah meremajakan materi. Berbeda dengan meremajakan materi pelajaran yang tersusun dalam bentuk buku cetak, materi online dapat diremajakan setiap saat.
·         Peserta didik dapat merasa senang dan tidak bosan dengan materi yang diajarkan karena menggunakan alat bantu seperti video, audio dan juga dapat menggunakan alat bantu seperti komputer bagi sekolah yang sudah mempunyai peralatan komputer.

Selain memiliki beberapa keunggulan, pemanfaatan e-learning pun memiliki beberapa kekurangan yakni :
·         Terutama dari sisi kebutuhan investasi jaringan pendukung dengan perangkat lunaknya. Untuk dapat memperoleh manfaat yang optimal dari e-learning dibutuhkan dukungan jaringan yang tepat dan stabil.
·         Guru banyak yang belum siap menggunakan metode e-learning dan masih belum terampil menggunakan fasilitas seperti video dan komputer.
·         Bagi orang yang gagap teknologi, sistem ini belum bisa diterapkan.
·         Keterbatasan jumlah Komputer yang dimiliki oleh Sekolah juga menghambat pelaksanaan e-learning.

D. LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN PROGRAM SISTEM PEMBELAJARAN BERBASIS E-LEARNING

Langkah-langkah Penyusunan Program Sistem Pembelajaran Berbasis E-Learning
A. Perencanaan Awal
1. Mengidentifikasi tujuan, kebutuhan dan masalah yang muncul dalam pembelajaran.
2. Analisis karakteristik siswa yang akan menggunakan dan pelajari materi
yang akan dikembangkan.
3. Mempertimbangkan strategi pembelajaran.
b. Menyiapkan Materi
1. Menguasai materi dan metodologi pengajaran.
2. Menguasai prosedur pengembangan media.
3. Menguasai teknik pemograman komputer.
4. Mengetahui keterbatasan komputer.
c. Mendesain Paket Program Pembelajaran
Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah memperkenalkan materi baru untuk melengkapi atau menguatkan pelajaran yang telah berlangsung dengan media lain.
d. Menvalidasi Paket Program Pembelajaran
Memvalidasi paket program membuktikan validitasnya secara empiris lewat uji lapangan pada paket program yang dikembangkan. Paket program diuji-cobakan dengan memilih sampel yang representatif.
Program pembelajaran perlu memperhatikan:
1. Kebenaran bahan ajar.
2. Ketepatan antara program dengan populasi pengguna.
3. Kesederhanaan program.
4. Efisiensi penggunaannya.
5. Reliabilitas.

Minggu, 22 Mei 2016

STUDI KASUS MANAJEMEN PENDIDIKAN

1.
Q: Jika manajemen keuangan mengalami kekurangan, maka?
A: Maka sistem yang berjalan dalam manajemen pendidikan tidak akan berjalan dengan optimal, karena setiap sekolah membutuhkan perencanaan pembiayaan seperti 

pembangunan sarana dana prasana yang menunjang kegiatan proses belajar mengajar di sekolah tersebut.

2.
Q: Jika sekolah tidak memiliki sistem manajemen, maka?
A: Maka sekolah tersebut tidak akan bisa menciptakan siswa yang berhasil karena dalam merencanakan sistem pendidikan tidak terjadi

3.
Q: Jika dalam manejemen, pemimpinnya bersifat otokratis, maka?
A: Maka kemungkinan dapat mengarahkan organisasi ke arah kehancuran atau kegagalan karena pemimpin otokratis menganggap bahwa organisasi itu miliknya sendiri dan bukan 

milik bersama.

4.
Q: Jika dalam diri kita tidak mengalami suatu perubahan, maka?
A: Maka diri kita tidak akan adanya kemajuan yang berarti dan membangun

5.
Q: Jika salah satu dari 5 fungsi manajemen yang salah satunya adalah perencanaan itu tidak ada, maka?
A: Maka sistem pendidikan di suatu sekolah tidak akan tercipta atau terjadi. Karena agar dapat menciptakan insan Indonesia harus dimulai dengan perencanaan yang matang 

dan telah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.

6.
Q: Jika motivasi dalam diri kita tidak ada, maka?
A: Maka tidak adanya rasa percaya diri sendiri ketika mengembangkan suatu bidang atau kegiatan tertentu ke arah positif yang lebih baik.

7.
Q: Apa yang terjadi jika tidak adanya manajemen dalam dunia pendidikan?
A: Maka proses pendidikan tidak berjalan dengan efektif dan efisien, didapatkan dengan melakukan pengelolaan manajemen pendidikan agar terarah dan terencana sesuai 

dengan sasaran yang hendak dicapai.

8.
Q: Apabila salah satu ruang lingkup tidak terpenuhi, maka?
A: Maka proses organisasi tidak akan berjalan sesuai yang diharapkan, dan bisa mengakibatkan gagalnya suatu organisasi yang telah dibangun dan juga tujuan dari 

organisasi itu kemungkinan besar tidak bisa tercapai dan apabila tercapai suatu prosesnya tidak akan berjalan secara efektik dan efisien yang berbeda dengan organisasi 

yang telah merencanakan semuanya.

Minggu, 10 April 2016

Monochrome world

Bagiku, dunia ini terlihat sama saja
Hitam putih
tidak ada yang spesial

Dimulai di hari yang itu itu saja
dan berakhir di ending yang seperti itu saja
membosankan

inginku melihat sesuatu hal yang berbeda
tapi seperti kata bijak lainnya

"LIFE INS'T A MOVIE"

Gak tau mau nulis apa

tapi tadi pagi beli spion kecil buat motor
maklum motor tua yang harusnya di bengkelin aja atau dijadikan mesin jahit
hehehehhee